Penelitian Kursi Roda yang dapat dikendalikan oleh Monyet

Wednesday, March 9th 2016. | SAINS

Sebuah penelitian melibatkan monyet yang dilengkapi dengan implan otak tanpa kabel mampu mengendalikan robot kursi roda dengan pikiran mereka, gelombang otak dari dua kera rhesus digunakan untuk mengarahkan perintah motor pada kursi roda bermotor. Monyet-monyet awalnya dilatih untuk menavigasi kursi roda hanya dengan menonton gerakan, kata para peneliti. Temuan baru ini mampu dalam satu hari meningkatkan mobilitas pada orang yang cacat parah sekalipun. seperti yang dilansir Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), bahkan terhadap orang yang tidak bisa menggerakkan otot pipi atau matanya, tambah para ilmuwan.

monyet di kursi roda

Dr. Miguel Nicolelis, co-direktur Duke Center for Neuroengineering dalam pernyataannya mengatakan bahwa “Pada beberapa orang cacat, bahkan yang tidak mampu berkedip sama sekali dapat menggunakan kursi roda atau perangkat yang dikendalikan dengan tindakan invasif seperti EEG [electroencephalogram], sebuah perangkat yang memonitor gelombang otak melalui elektroda pada kulit kepala. Mungkin tidak cukup Kami menunjukkan dengan jelas bahwa jika Anda memiliki implan intrakranial, Anda mendapatkan hasil yang lebih baik dari kursi kontrol dengan perangkat non-invasif. ” terangnya

Interface (antarmuka) mesin otak

Percobaan ini bukan pertama kalinya para ilmuwan  menciptakan apa yang disebut interface mesin otak. Sebuah penelitian pada tahun 2009, para peneliti menunjukkan bahwa orang dengan elektroda yang ditanamkan di otak mereka bisa mengetik hanya dengan pikiran mereka. Pada tahun 2012, penyakit lumpuh dapat dibantu pergerakan tangan dengan menggunakan tangan robot. Dan pada tahun 2013, Nicolelis dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa monyet bisa menggerakkan lengan robot dengan pikiran mereka.

Untuk meningkatkah teknologi terbaru hasil temuan mereka sebelumnya, Nicolelis dan rekan-rekannya menanamkan ratusan elektroda kecil ke korteks premotor, yang membantu rencana gerakan, dan korteks somatosensori, yang membantu proses indera peraba pada dua ekor monyet. Mereka kemudian melatih monyet untuk menggunakan gelombang otak mereka untuk menavigasi kursi roda menuju semangkuk anggur. Nicolelis dan rekan-rekannya kemudian merekam gelombang otak mereka dari 300 sel-sel otak (neuron). selama proses ini, Para ilmuwan menerjemahkan gelombang otak mereka menjadi perintah pada kursi roda bermotor.

Seiring waktu berjalan, monyet menunjukan kemajuan yang lebih baik pada tugas yang diberikan, dimana navigasi menuju semangkuk anggur lebih cepat dan tingkat kesalahan yang lebih kecil. Para peneliti melaporkan secara online 3 Maret di jurnal Scientific Reports.

Tim menemukan bahwa kera-kera tersebut tidak hanya menghasilkan sinyal otak yang berhubungan dengan terjemahan dan rotasi, tetapi mereka juga dapat mengevaluasi jarak antara semangkuk buah dengan kursi.

“Ini bukan merupakan sinyal yang hadir di awal pelatihan, tetapi sesuatu yang muncul sebagai efek dari monyet menjadi mahir dalam tugas ini,” kata Nicolelis dalam sebuah pernyataan. “Ini sangat mengejutkan, Hal ini menunjukkan fleksibilitas otak besar untuk mengasimilasi perangkat dalam hal ini kursi roda, dan hubungan spasial perangkat pada lingkungan sekitarnya.” imbuhnya.

tags: , , ,